Rabu, 18 Juni 2014

Fungsi dan prinsip media pembelajaran

FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN
 A. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti ’tengah’, ’perantara’, atau ’pengantar’ dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi (Sadiman,2002:6).
Banyak batasan yang diberikan orang tentang media. Asosiasi teknologi dan komunikasi pendidikan (Association of Education and Communication Technology/AECT) di Amerika, membatasi media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi. Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Sementara itu Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Buku, film, kaset, film bingkai, adalah contoh-contohnya (Sadiman, 2002:6).
Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan mengenai pengertian media pembelajaran. Media pembelajaran adalah suatu perantara yang digunakan oleh pendidik/guru untuk menyalurkan pesan atau informasi kepada siswanya sehingga siswa tersebut dapat terangsang ketika mengikuti kegiatan pembelajaran. Dapat dikatakan pula media pembelajaran dapat memudahkan siswa untuk menerima pembelajaran yang disampaikan pendidik/guru.
B.     Dasar Analisis Fungsi Media Pembelajaran
Menurut Wahyudi (2003) analisis terhadap fungsi media pembelajaran ini lebih di fokuskan pada dua hal, yaitu analisis fungsi yang di dasarkan pada medianya dan di dasarkan pada penggunaannya.
Analisis fungsi yang di dasarkan pada media terdapat tiga fungsi media pembelajaran, yakni
  1. media pembelajaran berfungsi sebagai sumber belajar,
  2. fungsi semantik,
  3. fungsi manipulatif.
Analisis fungsi yang di dasarkan pada penggunaannya dapat dibagi menjadi dua fungsi, yaitu
  1. fungsi psikologis,
  2. fungsi sosio kultural.
Dengan demikian terdapat lima fungsi media pembelajaran yang akan menjadi fokus pada pembahasan ini. Pada dasarnya fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai sumber  belajar. Fungsi-fungsi lain adalah pertimbangan pada kajian ciri-ciri umum yang dimilikinya, bahasa yang di pakai menyampaikan pesan dan dampak atau efek yang di timbulkannya. Ciri-ciri (karakteristik) umum media yang di maksud adalah kemampuan merekam, menyimpan, melestarikan, merekontruksi, dan mentransportasi suatu peristiwa atau objek. Kemudian yang di maksud bahasa yang di gunakanmenyampaikan pesan adalah bahasa variabel dan nonvariabel. Terakhir adalah tentang efek yang di timbulkannya. Bentuk kongrit dari efek ini adalah terjadinya perubahan tingkah laku dan sikap siswa sebagai akibat interaksi antara dia dengan pesan, baik perubahan itu secara individu maupun secara kelompok. Dan ini merupakan tujuan utama media, yakni mengefektifkan peroses komunikasi pembelajaran sehingga tercapai tujuan yang diinginkan.
C.      FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN
1. Fungsi Media Pembelajaran Sebagai Sumber Belajar
Secara teknis, media pembelajaran sebagai sumber belajar. Dalam kalimat “sumberbelajar” ini tersirat makna keaktifan, yaitu sebagai penyalur, penyampai, penghubung dan lain lain. Fungsi media pembelajaran sebagai sumber belajar adalah fungsi utamannya di samping adanya fungsi-fungsi lain  yang akan kita bahas di dalam makalah ini. Sehingga untuk beberapa hal media pembelajaran dapat menggantikan fungsi guru terutama sebagai sumber belajar. Misalnya ketika guru menyuruh siswanya untuk membaca buku pelajaran. Hal ini, buku menggantikan guru sebagai sumber belajar siswa. Dengan membaca buku, siswa memperoleh ilmu serta informasi yang tertulis di sana.
Mudhoffir dalam bukunya yang berjudul “Prinsip-prinsip Pengelolaan Sumber Belajar” (1992:1-2) menyebutkan bahwa sumber belajar pada hakekatnya merupakan komponen sistem instruksional yang meliputi pesan, orang, bahan, alat, teknik dan lingkungan yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Dengan demikian sumber belajar dapat dipahami sebagai segala macam sumber yang ada di luar diri seseorang dan memudahkan proses belajar mengajar.
Kemudahan tersebut tentunya akan membuat proses transfer ilmu semakin cepat dan tepat. Misalnya ketika guru kelas 1 SD mengajarkan penjumlahan dalam matematika. Bagi siswa yang baru memulai mengenal penjumlahan tentu akan sulit untuk mengoperasikannya melalui angka-angka. Mengingat kemampuan berpikir abstrak anak saat itu belum berkembang, alangkah baiknya jika guru menggunakan benda seperti pulpen, lidi, kelereng. Dengan demikian, siswa bisa melihat dan memahami secara visual proses pengoperasian bilangan tersebut.
2. Fungsi Semantik
Fungsi semantik adalah kemampuan media dalam menambah perbendaharaan kata yang makna atau maksudnya benar-benar di pahami oleh anak didik. Bahasa meliputi lambang (simbol) dari isi yakni pikiran atau perasaan yang keduannya telah menjadi totalitas pesan yang tidak dapat di pisahkan. Unsur-unsur dasar dari bahasa itu adalah ”kata”. Jadi, gambar harimau di pakai sebagai simbol keberanian. Kata akan bermakna bila telah di rujukan kepada sejumlah objek tertentu.
Manusialah yang memberi makna kepada kata pada konteks pendidikan dan pembelajaran. Gurulah yang menjadi makna pada setiap kata yang di sampaikannya. Bila simbol-sombil kata variabel tersebut hanya merujuk pada benda, maka masalah komunikasi akan menjadi masalah yang sederhana. Sehingga guru tidak terlalu sulit untuk menjelaskan.
3. Fungsi Manipulatif
Fungsi manipulatif ini di dasarkan pada ciri-ciri (karakteristik) umum yaitu kemampuan merekam, menyimpan, melestarikan, merekontruksi, dan mentransportasi suatu peristiwa atau objek. Berdasarkan karakteristik umum ini, media memiliki dua kemampuan, yakni mengatasi batas-batas ruang dan waktu, mengatasi keterbatasan inderawi.
Kemampuan media pembelajaran yang mengatasi ruang dan waktu, yaitu:
  1. Kemampuan media dalam menghadirkan objek atau peristiwa yang sulit di hadirkan dalam bentuk aslinya.
Contoh:
Ketika guru ingin mengambarkan keadaan bencana alam seperti gunung meletus, tidak mungkin guru menghadirkan keadaan tersebut ke dalam ruang kelas atau bahkan mengajak siswanya pergi ke gunung dan melihat secara langsung peristiwa tersebut. Namun, lewat media foto dan video yang ditampilkan, siswa sudah bisa melihat secara nyata keadaan bencana alam tersebut.
b. Kemampuan media menjadikan objek atau peristiwa yang menyita waktu panjang menjadi singkat.
Contoh:
Ketika dalam pelajaran IPA mengenai proses pertumbuhan tanaman, tentu untuk menunjukkan hal tersebut pasti membutuhkan waktu yang lama. Dengan bantuan media seperti buku maupun video, guru dapat lebih cepat dalam menunjukkan proses pertumbuhannya.
  1. Kemampuan media dalam menghadirkan kembali objek atau peristiwa yang telah terjadi.
Contoh:
Ketika dalam pelajaran sejarah, guru tidak cukup hanya menceritakan peristiwa di masa lampau. Untuk menghadirkan kembali peristiwa dalam sejarah, guru dapat menunjukkan foto-foto ataupun memutar film dokumenter. Sehingga siswa seakan-akan diajak bertamasya ke masa lampau.
Kemampuan media pembelajaran dalam mengatasi keterbatasan inderawi manusia, yaitu:
a. Membantu siswa memahami objek yang sulit di amati karena terlalu kecil, seperti molekul, atom, dan sel.
Contoh:
Penggunaan mikroskop atau Lup bisa membantu siswa mengamati dengan jelas benda yang ukuran kecil atau bahkan sangat kecil.
b. Membantu siswa dalam memahami objek yang bergerak terlalu lambat atau terlalu cepat.
Contoh
Seperti proses metemorfosis pada kupu-kupu, proses perubahan ulat untuk berubah menjadi kupu-kupu tentu membutuhkan waktu yang lama. Dengan video tentang metamorphosis atau menunjukkan gambar proses metamorphosis, tentu siswa tidak perlu menunggu berhari-hari untuk melihat peristiwa tersebut.
c. Membantu siswa dalam memahami objek yang membutuhkan kejelasan suara.
Contoh:
Seperti cara membaca al quran sesuai dengan kaidah tajwid. Siswa bisa membaca sambil mendengarkan bacaan al quran dari kaset. Hal ini tentunya harus dilakukan sampai dapat membaca al quran dengan baik dan benar.
d.Membantu siswa memahami objek yang terlalu kompleks,
Contoh:
Guru menggunakan peta untuk memberikan gambaran tentang kondisi lingkungan, misalnya seperti: pemukiman, sawah, ladang, pegunungan, sungai, batas wilayah, dll.
4. Fungsi Psikologis
a. Fungsi Atensi
Media pembelajaran dapat meningkatkan perhatian (attention) siswa terhadap materi ajar. Setiap orang memiliki sel saraf penghambat, yakni sel khusus yang berfungsi membuang sejumlah sensasi yang datang. Dengan adanya sel penghambat ini, para siswa dapat memfokuskan perhatiannya pada rangsangan yang dianggapnya menarik dan membuat rangsangan yang lainnya dengan demikian, media belajar yang tepat guna adalah media belajar yang menarik dan memfokuskan siswa. Dalam psikologi komunikasi, fenomena ini terjadi ketika kita memperhatikan rangsangan tertentu sambil membuang rangsangan yang lainnya disebut perhatian selektif (selectiv attention). Contoh saat pembelajaran IPA tentu terasa sangat membosankan jika hanya sekedar menyampaikannya secara teori.
b. Fungsi afektif
Fungsi afektif yaitu menggugah perasaan, emosi, dan tingkatan penerimaan atau penolakan siswa terhadap sesuatu. Setiap orang memiliki gejala batin jiwa yang berisikan kualitas karakter dan kesadaran. Ia berwujud pencurahan perasaan minat, dan sikap penghargaan, nilai-nilai, atau perangkat emosi dan kecenderungan kecenderuangan batin. Media pembelajaran yang tepat guna dapat meningkatkan sambutan dan penerimaan siswa terhadap stimulus tertentu. Sambutan dan penerimaan tersebut berupa kemauan, dengan adannya media pembelajaran, terlihat pada diri siswa kesediaan untuk menerima beban pelajaran, dan untuk itu perhatiannya akan tertuju pada pembelajaran yang di ikutinnya. Hal lain dari penerimaan itu adalah munculnya tanggapan yaitu partisipasi siswa dalam keseluruhan proses pemebelajaran siswa secara suka rela. Hal ini merupakan relaksasi siswa terhadap rangsangan yang di terimannya. Apabila siswa tersebut di lakukan dengan terus menerus, maka tidak menutup kemungkinan jiwannya melakukan penilaian dan penghargaan terhadap nilai-nilai atau norma-norma yang di perolehnnya. Pada tingkat tertentu nilai nilai atau norma-norma itu akan di terimannya dan di yakininnya. Kemudian terjadilah pengorganisasian nilai-nilai, norma-norma, kepercayaan, ide, dan sikap yang menjadi sistem batin yang konsisten yang di sebut dengan karakteristik.
c. Fungsi kognitif
Siswa yang belajar melalui media pembelajaran akan memperoleh dan menggunakan bentuk-bentuk yang mewakili objek-objek yang di hadapi, baik objek berupa orang, benda, atau kejadian/peristiwa. Objek-objek itu di dihadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan atau lambang, yang dalam psikologi semuanya merupakan sesuatu yang bersifat mental. Belajar melalui kegiatan seperti darmawisata, siswa mampu menceritakan pengalamannya selama melakukan kegiatan itu kepada temannya. Tempat-tempat yang ia kunjungi selama berdarmawisata tidak di bawa pulang, dirinya sendiri juga tidak hadir di tempat darma wisata itu saat ia bercerita pada temannya tersebut. Tetapi semua pengalaman tercatat di dalam benaknya. Dalam bentuk gagasan-gagasan dan tanggapan-tanggapan. Gagasan dan tanggapan itu di tuangkan dalam kata-kata yang di sampaikan kepada temannya yang mendengarkan ceritannya. Dengan demikian pengalaman selama berkunjung ke tempat darma wisata di wakilkan dalam betuk gagasan atau tanggapan yang kedua dalam bentuk mental. Jelaslah kirannya, media pembelajaran itu telah andil dalam mengembangkan kognitif siswa. Semakin banyak ia di hadapkan dengan objek-objek akan semakin banyak pula pikiran dan gagasan yang dimilikinya, atau semakin kaya dan luas pikiran kognitifnya.
d. Fungsi imajinatif
Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengembangkan imajinatif siswa. Imajinatif dalam kamus lengkap psikologi adalah proses menciptakan objek atau peristiwa tanpa pemanfaatan data sensoris. Imajinatif ini mencakup penimbulan atau kreasi objek-objek baru sebagai rencana di masa mendatang, atau dapat pula mengambil bentuk fantasi (khayal). Misalnya guru memberikan gambar tentang peristiwa tanah longsor. Tentu secara otomatis anak akan berpikir dan berimajinasi kenapa peristiwa tersebut bisa terjadi.
e. Fungsi motivasi
Motivasi merupakan seni yang mendorong siswa untuk terdorong melakukan kegiatan belajar sehingga tujuan pembelajaran tercapai. Dengan demikian motivasi merupakan usaha dari pihak luar adalah guru untuk mendorong, mengaktifkan, menggerakkan siswannya untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Guru dapat memotivasi siswanya dengan cara membangkitkan minat belajarnnya dan dengan cara memberikan dan menimbulkan harapan. Harapan akan tercapainnya hasrat dan tujuan dapat menjadi motivasi yang di timbukan guru kedalam diri siswa. Salah satu pemberian harapan itu yakni dengan cara memudahkan siswa, bahkan yang dianggap lemah sekalipun dalam memahami dan menerima isi pelajaran yakni melalui pemanfaatan media pembelajaran yang tepat guna.
5. Fungsi Sosio Kultural
Fungsi media pembelajaran dilihat dari sosio kultural, yaitu mengatasi hambatan sosio kultural antar peserta komunikasi pembelajaran. Bukan hal yang mudah untuk memahami para siswa yang memiliki jumlah yang cukup banyak (paling tidak dalam satu kelas berjumlah 40 orang). Masing masing memiliki karakteristik yang berbeda-beda apalagi dihubungkan dengan adaptasi, keyakinan, lingkungan, pengalaman, dan lain lain. Sedangkan dari pihak lain, kurikulum dan materi ajar ditentukan dan dilakukan secara sama untuk setiap siswa. Tentunya guru akan menghadapi kesulitan terlebih guru harus mengatasinya sendiri. Apalagi bila latar belakang dirinnya (guru) baik adat, budaya, lingkungan, dan pengalaman yang berbeda dari para siswannya. Hal ini dapat di atasi dengan media pembelajaran, karena media pembelajaran memiliki kemampuan dalam memberikan rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman, dan menimbulkan persepsi yang sama.
D. Manfaat Media Pembelajaran bagi Kehidupan Sekolah
Menurut Sumadi (2012) secara umum manfaat media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara guru dengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih afektif dan efisien.  Sedangkan secara lebih khusus manfaat media pembelajaran adalah:
 1. Penyampaian Materi Pembelajaran Dapat Diseragamkan
Dengan bantuan media pembelajaran, penafsiran yang berbeda antar guru dapat dihindari dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara siswa dimanapun berada.
 2. Proses Pembelajaran Menjadi Lebih Jelas dan Menarik
Media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baik secara alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan. Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif. Dengan media akan terjadinya komunikasi dua arah secara aktif, sedangkan tanpa media guru cenderung bicara satu arah.
3. Efisiensi Dalam Waktu dan Tenaga
Dengan media pembelajaran tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktu dan tenaga seminimal mungkin. Guru tidak harus menjelaskan materi ajaran secara berulang-ulang, sebab dengan sekali sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran.
4. Meningkatkan Kualitas Hasil Belajar Siswa
Media pembelajaran dapat membantu siswa menyerap materi belajar lebih mandalam dan utuh. Bila dengan mendengar informasi verbal dari guru saja, siswa kurang memahami pelajaran, tetapi jika diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan dan mengalami sendiri melalui media pemahaman siswa akan lebih baik. Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja. Media pembelajaran dapat dirangsang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan lebih leluasa dimanapun dan kapanpun tanpa tergantung seorang guru.Perlu kita sadari waktu belajar di sekolah sangat terbatas dan waktu terbanyak justru di luar lingkungan sekolah. Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar. Proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar